Kontak Kami

( pcs) Checkout

Buka jam 07.00 s/d jam 21.00 , Melayani Orderan Setiap Hari
Beranda » Artikel Terbaru » Ketika si kecil tak mau berpisah

Ketika si kecil tak mau berpisah

Diposting pada 29 July 2014 oleh Summase S Pd

Wajar jika seorang anak selalu ingin dekat ibunya. Tapi jika ia terlihat ketakutan saat sendiri, Anda perlu waspada

“Mama, aku besok nggak mau sekolah kalau nggak ditemenin sama mama”, “Mama, besok aku ke sekolahnya nggak mau naik jemputan, maunya diantar sama papa aja, kalau aku diculik gimana?”, “Mama, aku nggak mau tidur sendiri, maunya bertiga sama mama papa aja… Takut…”. Pernah nggak anak Mommies mengatakan salah satu (atau malah semuanya) di antara ketiga pernyataan tersebut? Kalau iya, ada kemungkinan anak Mommies mengalami Separation Anxiety Disorder atau takut berpisah dari orang terdekatnya.

Bukannya memang wajar kalau anak itu takut pisah sama orangtuanya ketika pertama kali masuk sekolah?

Memang wajar kalau anak takut pisah sama orangtuanya ketika pertama kali terlibat dalam aktivitas atau lingkungan baru, ketika pertama kali masuk TK misalnya, tetapi seharusnya ketakutan tersebut semakin berkurang seiring mereka semakin sering pergi untuk melakukan aktivitas tersebut. Namun, apabila anak terus-terusan merasa cemas yang kuat setiap mereka terpisah berulang sama orangtuanya, maka anak tersebut dikatakan mengalami separation anxiety disorder.

Menurut DSM V (klasifikasi gangguan mental), ciri-ciri utama separation anxiety disorder adalah tingkat stres yang tinggi ketika berpisah dengan rumah atau orang terdekatnya (seringkali orangtua, terutama ibunya), rasa cemas yang berlebihan terhadap orangtuanya (takut mereka cedera atau meninggal, dan memiliki keengganan yang besar untuk terlibat dalam aktivitas yang mengharuskan terpisah secara fisik dengan orangtuanya.

Apa kriteria diagnostik untuk mengetahui apakah anak memiliki separation anxiety disorder atau tidak?
Kriteria diagnostiknya berdasarkan American Psychological Association adalah:

  1. Memiliki paling tidak 3 dari 8 ciri-ciri di bawah ini:
    • Mengalami stres yang berulang ketika harus terpisah dari rumah atau orang terdekatnya
    • Kecemasan yang bertahan dan berlebihan akan kehilangan atau terjadinya kekerasan pada orang terdekat
    • Kecemasan yang bertahan dan berlebihan bahwa situasi yang tidak terduga dapat mengarahkan pada perpisahan dengan orang terdekat (contoh tersasar atau diculik)
    • Keengganan atau penolakan yang bertahan untuk pergi ke sekolah atau tempat lain karena takut akan perpisahan
    • Rasa takut atau keengganan yang bertahan dan berlebihan untuk sendirian atau tanpa orang terdekat di rumah, atau tanpa orang dewasa terdekat di lingkungan lainnya
    • Keengganan atau penolakan yang bertahan untuk tidur terpisah dengan orang terdekat atau tidur di luar rumah
    • Mengalami mimpi buruk berulang tentang perpisahan
    • Keluhan berulang mengenai ciri fisik (seperti pusing, sakit perut, mual, atau muntah) ketika harus terpisah dengan orang terdekat
  2. Durasi dari gangguan tersebut bertahan selama paling tidak 4 minggu
  3. Gejalanya muncul sebelum usia 18 tahun
  4. Gangguan tersebut menyebabkan stres atau gangguan di area sosial, akademik, atau area penting lainnya
  5. Gangguan tersebut bukan karena gangguan mental lain, dan tidak terjadi pada remaja atau orang dewasa
Ketika si kecil tak mau berpisah

Ketika si kecil tak mau berpisah Ilustrasi/pixabay)

Apa karakteristik dan pengalaman yang dirasakan oleh anak yang mengalami separation anxiety disorder?
Mereka pada umumnya mengalami 4 tahap, yaitu kecemasan yang rendah dan memiliki perasaan aman ketika berada di dekat orangtuanya, kecemasan yang semakin meningkat ketika memikirkan mengenai perpisahan yang akan terjadi, kecemasan yang tinggi ketika terpisah dari orangtua, dan rasa cemas yang hilang ketika bersatu kembali dengan orang tuanya.

Separation Anxiety Disorder memiliki 3 tingkat keparahan. Anak dengan gejala yang tidak terlalu parah akan bersantai pada pagi hari sebelum sekolah, kesulitan berkonsentrasi saat di sekolah, dan pulang secepat mungkin pada siang hari. Anak dengan gejala sedang akan seringkali berusaha untuk tinggal di rumah dan tidak pergi ke sekolah, menolak untuk bermain di luar bersama teman-teman ketika ia sedang di rumah, dan terus dekat-dekat dengan orang tuanya saat berada di rumah. Sedangkan anak dengan gejala yang parah akan menolak masuk sekolah, mengalami berbagai gejala fisik ketika mereka harus terpisah dari orang tuanya, dan menolak untuk tidur kecuali di kamar orangtuanya.

Separation anxiety disorder ini biasanya menghambat performa anak di sekolah dan hubungannya dengan teman sebaya. Performa akademik dapat terganggu jika anak sering absen dari sekolah atau kecemasannya membuatnya sulit fokus pada tugas-tugasnya. Beberapa anak dengan separation anxiety disorder akan duduk sendirian dan merasa cemas selama istirahat atau waktu makan siang dan cepat-cepat pulang pada siang hari.

Apa yang dapat menyebabkan anak mengalami separation anxiety disorder?

  • Perubahan lingkungan
    Pada anak yang mengalami kecenderungan mengalami separation anxiety disorder, perubahan lingkungan seperti rumah, sekolah, atau daycare baru dapat memicu timbulnya separation anxiety disorder
  • Stres
    Situasi yang membuat stres, seperti pindah sekolah atau kehilangan orang atau sesuatu yang dicintai dapat memicu timbulnya separation anxiety disorder
  • Orangtua yang overprotektif
    Terkadang separation anxiety disorder tersebut merupakan manifestasi dari kecemasan orang tuanya saat anaknya terpisah darinya

Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi separation anxiety disorder?
Pengobatan yang dapat dilakukan adalah melakukan terapi dengan bantuan profesional. Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Talk Therapy
    Talk Therapy menyediakan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaannya. Memiliki seseorang yang dapat mendengarkan anak secara empatik dan membantunya memahami kecemasannya dapat menjadi pengobatan yang efektif
  • Play Therapy
    Terapi dengan bermain merupakan cara yang umum dan efektif untuk membuat anak berbicara mengenai perasaannya
  • Melakukan konseling terhadap keluarga
    Konseling keluarga dapat membantu anak menetralkan kecemasannya dan para orang tua dapat membantu anak mengatasi kecemasannya
  • School-based counseling
    Terapi ini dapat membantu anak mengeksplor tuntutan sosial, tingkah laku, dan akademis dari sekolahnya
  • Obat-obatan
    Obat-obatan diberikan untuk mengobati separation anxiety disorder yang tingkat keparahannya tinggi. Namun, obat-obatan ini hanya diberikan saat sedang diberikan terapi lain. (Moomies Daily)
  • Terapi dengan Transfer Factor Trifactor
    Transfer Factor Trifactor dapat diberikan pada anak yang mengalami separation anxiety disorder, dengan dosis minimal 3×1 atau 3×2

Demikianlah artikel mengenai Ketika si kecil tak mau berpisah, semoga bermanfaat.

data-ad-format="link">

Bagikan informasi tentang Ketika si kecil tak mau berpisah kepada teman atau kerabat Anda.

Ketika si kecil tak mau berpisah | TOKOINA-JUAL PRODUK KESEHATAN dan KECANTIKAN

Belum ada komentar untuk Ketika si kecil tak mau berpisah

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three + 9 =

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
Best Seller
Rp 2.500.000
Ready Stock / WEBMAGZ
Rp 18.000
Ready Stock / PIAM
SIDEBAR